Selasa, 27 Maret 2012

Laporan Aklimatisasi Kultur Jaringan


Laporan Aklimatisasi Kultur Jaringan
I.   PENDAHULUAN
1.1   Latar Belakang
Suatu tahapan yang sangat penting dalam teknik kultur jaringan adalah aklimatisasi planlet yang ditanam secara in vitro kedalam rumah kaca atau langsung ke lapang. Aklimatisasi merupakan kegiatan akhir teknik kultur jaringan. Aklimatisasi adalah proses pemindahan planlet dari lingkungan yang terkontrol (aseptik dan heterotrof) ke kondisi lingkungan tak terkendali, baik suhu, cahaya, dan kelembaban, serta tanaman harus dapat hidup dalam kondisi autotrof, sehingga jika tanaman (planlet) tidak diaklimatisasi terlebih dahulu tanaman (planlet) tersebut tidak akan dapat bertahan dikondisi lapang.
Aklimatisasi dilakukan untuk mengadaptasikan tanaman hasil kultur jaringan terhadap lingkungan baru sebelum ditanam dan dijadikan tanaman induk untuk produksi dan untuk mengetahui kemampuan adaptasi tanaman dalam lingkungan tumbuh yang kurang aseptik. Aklimatisasi bertujuan untuk mengadaptasikan tanaman hasil kultur terhadap lingkungan baru sebelum kemudian ditanam di lahan yang sesungguhnya. Aklimatisasi adalah suatu proses dimana suatu tanaman beradaptasi sengan perubahan lingkungan.
Berdasarkan uraian diatas maka perlu adanya pengetahuan tentang bagaimana Memberikan pengalaman tentang tata cara aklimatisasi planlet hasil kultur jaringan, serta Mengadaptasikan tanaman hasil kultur jaringan terhadap lingkungan baru sebelum ditanam di lapang dan untuk mengetahui kemampuan adaptasi tanaman dalam lingkungan tumbuh yang kurang aseptik.
1.2  Tujuan dan Kegunaan
Tujuan dari praktikum ini agar kita dapat mengetahui bagaimana tentang tata cara aklimatisasi planlet hasil kultur jaringan.
Kegunaan dari praktikum ini yaitu agar kita dapat mengadaptasikan tanaman hasil kultur jaringan terhadap lingkungan baru sebelum ditanam di lapang dan untuk mengetahui kemampuan adaptasi tanaman dalam lingkungan tumbuh yang kurang aseptik.

II.   TINJAUAN PUSTAKA
2.1  Pengertian Aklimatisasi
   Aklimatisasi merupakan kegiatan akhir teknik kultur jaringan. Aklimatisasi adalah proses pemindahan planlet dari lingkungan yang terkontrol (aseptik dan heterotrof) ke kondisi lingkungan tidak terkendali, baik suhu, cahaya, dan kelembaban, serta tanaman harus dapat hidup dalam kondisi autotrof, sehingga jika tanaman (planlet) tidak diaklimatisasi terlebih dahulu tanaman (planlet) tersebut tidak akan dapat bertahan dikondisi lapang. Aklimatisasi dilakukan untuk mengadaptasikan tanaman hasil kultur jaringan terhadap lingkungan baru sebelum ditanam dan dijadikan tanaman induk untuk produksi dan untuk mengetahui kemampuan adaptasi tanaman dalam lingkungan tumbuh yang kurang aseptik. Aklimatisasi adalah suatu proses dimana suatu tanaman beradaptasi sengan perubahan lingkungan (Torres, 1989).
Pada tahap ini (aklimatisasi) diperlukan ketelitian karena tahap ini merupakan tahap kritis dan seringkali menyebabkan kematian planlet. Kondisi mikro planlet ketika dalam botol kultur adalah dengan kelembaban 90-100 %. Beberapa sumber menuliskan penjelasan yang berkaitan dengan hal tersebut.Bibit yang ditumbuhkan secara in vitro mempunyai kutikula yang tipis dan jaringan pembuluh yang belum sempurna (Wetherell, 1982).
Kutikula yang tipis menyebabkan tanaman lebih cepat kehilangan air dibanding dengan tanaman yang normal dan ini menyebabkan tanaman tersebut sangat lemah daya bertahannya. Walaupun potensialnya lebih tinggi, tanaman akantetap menjadi layu karena kehilangan air yang tidak terbatas (Pospisilova et al, 1996). Kondisi tersebut menyebabkan tanaman tidak dapat langsung ditanam dirumah kaca (Wetherelll, 1982).
Mengacu pada penjelasan tersebut di atas maka planlet terlebih dahulu harus ditanam didalam lingkungan yang memadai untuk pertumbuhannya kemudian secara perlahan dilatih untuk terus dapat beradaptasi dengan lingkungan sebenarnya di lapang. Lingkungan yang tersebut secara umum dapat diperoleh dengan cara memindahkan planlet kedalam plastik atau boks kecil yang terang dengan terus menurunkan kelembaban udaranya. Planlet-planlet tersebut kemudian diaklimatisasi secara bertahap mengurangi kelembaban relatif lingkungannya, yaitu dengan cara membuka penutup wadah plastik atau boks secara bertahap pula (Torres, 1989).
Selain itu, tanaman juga memerlukan akar untuk menyerap hara agar dapat tumbuh dengan baik sehingga dalam tahap aklimatisasi ini diperlukan suatu media yang dapat mempermudah pertumbuhan akar dan dapat menyediakan hara yang cukup bagi tanaman (planlet) yang diaklimatisasi tersebut. Media yang remah akan memudahkan pertumbuhan akar dan melancarkan aliran air, mudah mengikat air dan hara, tidak mengandung toksin atau racun, kandungan unsur haranya tinggi, tahan lapuk dalam waktu yang cukup lama. Media aklimatisasi bibit kultur jaringan krisan dan kentang di Indonesia saat ini adalah media arang sekam atau media campuran arang sekam dan pupuk kandang (Marzuki, 1999).
Arang sekam merupakan salah satu media hidroponik yang baik karena memiliki beberapa keunggulan sebagai berikut; mampu menahan air dalam waktu yang relatif lama, termasuk media organik sehingga ramah lingkungan, lebih steril dari bakteri dan jamur karena telah dibakar terlebih dahulu, dan hemat karena bisa digunakan hingga beberapa kali (Sinaga, 2001).
III. METODOLOGI
3.1 Tempat dan Waktu
            Praktikum Aklimatisasi kultur jaringan dilaksanakan di malino desa bulu ballea, kabupaten gowa, pada hari sabtu, 9 April  2011 pukul 16.00 WITA sampai selesai.
3.2  Alat dan Bahan
Bahan dan alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu bibit yang telah berumur 8-12 minggu sejak dikulturkan, arang sekam (sebagai media tanam), stoples/gelas plastik transparan (sebagai pot atau wadah tanam), air steril, Dithane/benlate, agrept, dan pupuk daun.
3.3  Prosedur Kerja
1.    Keluarkan planlet dari botol dengan hati-hati agar tidak putus dan pastikan bibit tersebut telah berakar, cuci bersih planlet dengan air yang sudah dimasak secara perlahan dan pastikan semua agar-agar sudah tidak ada pada akar planlet,
2.    Rendam bibit yang sudah bersih pada larutan Dithane/benlate 1 g/L + Agrept 1 g/L selama 10 menit, arang sekam yang sudah steril dibasahi sampai jenuh dengan air steril, tanam planlet dengan jaraj yang tidak terlalu rapat guna mencagah bibit membusuk, tutup stoples atau gelas yang telah ditanami planlet.
3.    selanjutnya disimpan di ruang kultur, planlet disiram dengan cara di spray setiap 2-3 hari sekali untuk menjaga kelembaban, planlet yang telah berumur 1 minggu selanjutnya dikeluarkan ketempat teduh untuk mengadaptasikannya dengan lingkungan in vivo selam 2 minggu. Pada saat ini planlet dapat disiram dengan pupuk daun dengan konsentrasi ¼.
 
IV.        HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Hasil Dari praktikum pembuatan media di peroleh  hasil pengamatan yaitu:
No.
Tahap aklimatisasi
Gambar
1
Planlet dalam botol kultur siap untuk di aklimatisasi.
2.
Lalu dikeluarkan dari botol kultur, dilakukan dengan cara yang steril
3.
Dipindahkan ke arang sekam yang telah disiapkan. Dan disimpan hingga beberapa hari sampai pertumbuhannya sempurna.
4.
Setelah itu tanaman yang terdapat pada arang sekam, lalu di pindahkan kelahan.
1.2  Pembahasan
Hal yang pertama kali dilakukan praktikan adalah mengeluarkan planlet dari botol dengan hati-hati agar tidak putus dan pastikan bibit tersebut telah berakar, dengan pertimbangan bahwa planlet yang dinilai telah memiliki akar yang cukup akan memudahkan dalam proses penyerapan hara dari media tanam (Anonim, 2011).
Kemudian pada gambar selanjutnya planlet dicuci bersih dengan air yang sudah dimasak secara perlahan sampai semua agar-agar sudah tidak ada pada akar planlet, setelah itu planlet di rendam pada larutan Dithane/benlate 1 g/L + Agrept 1 g/L selama 10 menit, larutan tersebut berfungsi sebagai bakterisida dan fungisida (Anonim, 2011).
Pada gambar ketiga Media yang digunakan yaitu arang sekam yang sudah disterilkan kemudian dibasahi sampai jenuh dengan air steril.Lalu planlet ditanam dengan jarak yang tidak terlalu rapat agar bibit tidak membusuk. Wadah tanam (pot) yang digunakan yaitu gelas transparan bekas air mineral. Wadah yang telah ditanami planlet tersebut selanjutnya ditutup dengan gelas transparan lainnya, hal ini dilakukan untuk menjaga kelembaban dilingkungan tumbuh planlet lalu disimpan di ruang kultur.
Lalu pada gambar selanjutnya jika tanaman sudah dewasa maka tanaman tersebut dipindahkan ke lahan. Serta untuk penyiraman dilakukan hanya jika media dinilai kekurangan air,selain itu penyiraman juga dilakukan untuk menjaga kelembaban (Anonim, 2011).

V.  PENUTUP
5.1  Kesimpulan
Aklimatisasi merupakan tahapan yang sangat penting dalam kultur jaringan karena pada tahap inilah planlet hasil kultur jaringan akan beradaptasi baik secara morfologi maupun fisiologi untuk dapat hidup di lapang. Percobaan ini memberikan gambaran bahwa aklimatisasi bukanlah suatu hal yang bisa dilakukan dengan begitu saja, diperlukan ketelitian dan pengetahuan yang baik agar dapat berhasil.
5.2  Saran
Untuk selanjutnya, sebaiknya praktikan lebih teliti dan berusaha memperoleh pengetahuan yang lebih memadai dalam menjalankan praktikum ini. Selain itu percobaan aklimatisasi ini sebaiknya menggunakan media tanam yang berbeda-beda sehingga praktikan dapat memperoleh pengetahuan tentang media tanam apa yang lebih baik digunakan untuk aklimatisasi.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2011. Aklimatisasi kultur jaringan. Fakultas Pertanian. Universitas Hasanuddin.
Marzuki, A. 1999.Pengaruh lama penyimpanan, konsentrasi sukrosa dan cahaya penyimpanan terhadap vigor planlet kentang (Solanum tuberosum L.).Skripsi. Jurusan Budidaya Pertanian. Fakultas Pertanian. IPB. Bogor.
Sinaga, N. A. K. 2001. Pengaruh sukrosa dan lama simpan gelap terhadap vigor bibit krisan (Chysanthemum sp.).Skripsi. Jurusan Budidaya Pertanian. Fakultas Pertanian. IPB. Bogor.
Torres, K. C. 1989. Tissue Culture Techniques for Horticultural Crops.Chapman and Hall. New York. London.
Wetherelll, D. F. 1982. introduction to in vitro Propagation. Avery Publishing Group Inc. Wayne, New Jersey.

0 komentar:

Posting Komentar