Tampilkan postingan dengan label Laporan Ilmu Tanah (DDIT). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Laporan Ilmu Tanah (DDIT). Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Maret 2012

Partikel Density


LAPORAN PARTIKEL DENSITY

I. PENDAHULUAN
1.1     Latar Belakang
Salah satu cara mengutarakan berat tanah adalah yang disebut dengan Partikel Density. Partikel Density didefinisikan sebagai berat suatu volume kepadatan tanah. Jelasnya yang dimaksud dengan tanah disini adalah volume tanah saja, jadi tidak termasuk volume ruang-ruang yang terdapat diantara partikel tanah.
Partikel density dinyatakan dalam berat volume tanah. Pada umumnya kisaran partikel density pada tanah mineral kecil adalah 2,6 – 2,93 gr/cm3. Hal ini disebabkan mineral kuarsa dan silikakoloidal yang merupakan komponen tanah sekitar angka tersebut.
Besarnya ukuran dan cara teraturnya partikel tanah tidak terpengaruh kepada partikel density, akan tetapi kandungan bahan organik memberi pengaruh pada partikel density. Ini salah satu penyebab tanah lapisan atas mempunyai nilai partikel density yang lebih rendah jika dibandingkan dengan lapisan bawahnya karena lapisan atas mempunyai kandungan bahan organik yang banyak. Faktor-faktor yang mempengaruhi partikel density adalah bulk density yang secara tidak langsung berhubungan dengan kandungan bahan organik tanah, tekstur, dan struktur tanah.
Kecepatan zarah tanah dapat ditentukan dengan memperhatikan partikel tanah, jadi kecepatan partikel tanah yaitu konstan dan tidak bervariasi dengan jumlah antara partikel tanah. Kerapatan tanah dapat ditentukan dengan menunjukkan partikel tanah.
Berdasarkan uraian diatas, maka perlu dilakukan percobaan mengenai partikel density agar kita mengetahui tentang partikel density pada tiap-tiap lapisan tanah.

1.2     Tujuan dan Kegunaan
Tujuan diadakannya praktikum tentang partikel density adalah untuk mengetahui tingkat partikel density yang mengutarakan tentang berat tanah.
Kegunaan diadakannya praktikum tentang partikel density adalah untuk mengetahui tinggi atau rendahnya tingkat partikel density pada tanah untuk disesuaikan dengan keadaan dan pertumbuhan tanaman.

II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1     Particle Density
Partikel density adalah berat tanah kering persatuan volume partikel-partikel tanah (jadi tidak termasuk pori-pori tanah). Tanah mineral mempunyai partikel density yaitu 2,65 gr/cm3. Dengan mengetahui besarnya nilai partikel density dan bulk density, maka dapat dihitung banyaknya persentase (%) pori-pori tanah. Kandungan bahan organik memberikan pengaruh pada partikel density (Hardjowigeno, 2003).
Untuk menentukan kepadatan partikel tanah, pertimbangan hanya diberikan untuk partikel yang kuat. Oleh karena itu, kerapatan partikel setiap tanah merupakan suatu tetapan dan tidak bervariasi menurut jumlah ruang partikel. Hal ini didefinisikan sebagai massa tiap unit volume partikel tanah dan sering kali dinyatakan dalam gram/cm3. Untuk kebanyakan tanah mineral kerapatan partikelnya rata-rata sekitar 2,6 gram/cm3 (Foth, 1994).
Kerapatan partikel (bobot partikel) adalah bobot massa partikel padat persatuan volume tanah, biasanya tanah memiliki kerapatan partikel 2,6 gr/cm3. Kerapatan partikel erat hubungannya dengan kerapatan massa. Hubungan kerapatan partikel dan kerapatan massa dapat menentukan pori-pori pada tanah (Hanafiah, 2006).
Partikel density dinyatakan dalam berat (gram tanah persatuan volume cm3) tanah. Jadi bila 1 cm3 padatan tanah beratnya 2,6 gram, maka partikel density tanah tersebut adalah 2,6 gr/cm3 (Pairunan,1985).
Pada umumnya kisaran partikel density tanah – tanah mineral kecil adalah 2,6-2,93 gr/cm3. Hal ini disebabkan mineral kwarsa, feldspart dan silikat koloida yang merupakan komponen tanah sekitar angka tersebut. Jika dalam tanah terdapat mineral – mineral berat sepereti magnetik, garmet, sirkom, tourmaline dan hornblende, partikel density dapat melebihi 2,75 gr/cm3. besar ukuran dan cara teraturnya partikel tanah tidak dapat berpengaru dengan partaken density. Ini salah satu pebnyebab tanah lapisan atas mempunyai nilai partikel density yang lebih rendah dibandingkan dengan lapisan bawahnya.karena banyak mengandung bahan organik ( Hakim, 1986).
 2.2      Faktor-faktor yang mempengaruhi particle density
Faktor- faktor yang mempengaruhi Partikel density adalah BD dan bahan organic, semakin tinggi BD (bulk density) tanah dan bahan organic tanah maka partikel density dalam tanah tersebut akan semakin rendah. Begitu pula sebaliknya (Hardjowigeno, 1992).

2.3     Pengaruh Particle Density Terhadap Tanaman
Jika particle density suatu lahan rendah, maka tanah tersebut kurang baik untuk dijadikan media tanam, sebaliknya jika nilai particle density nya tinggi, maka bagus untuk dijadikan suatu media tanam bagi produktivitas tanaman. Bahan organik memiliki berat yang lebih kecil dari berat benda padat tanah mineral yang lain dalam volume yang sama, jumlah bahan organik dalam tanah jelas mempengaruhi kerapatan butir. Akibatnya tanah permukaan biasanya kerapatan butirnya lebih kecil dari sub soil (Hardjowigeno, 1992).

III. METODOLOGI
3.1     Waktu dan Tempat
Praktikum Particle Density dilaksanakan pada hari kamis, 28 Oktober 2011 pada pukul 15.00 WITA – selesai, di Laboratorium Kimia Tanah, Jurusan Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Hasanuddin, Makassar.

3.2     Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan pada praktikum Partikel Density ini adalah gelas ukur dan pengaduk.
Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum Partikel Density ini adalah sampel tanah, tisuue, akuades dan air pembilas.

3.3     Prosedur Kerja
1.        Masukkan tanah hasil analisa bulk density sebanyak 40 gram kedalam gelas ukur 100 ml yang telah diberi air sebanyak 50 ml dan aduk dengan baik untuk melepaskan udaranya.
2.        Membilas gelas pengaduk pada dinding silinder dengan jumlah air (kurang lebih 10 ml).
3.        Membiarkan campuran selama 5 menit untuk melepaskan udaranya dan catat volume air dalam gelas ukur, ingat bahwa pada tanah terdapat udara dan air.
4.        Menghitung Partikel Densitynya
PD  =    gr/cm3
SVol partikel padat  =  (Vol air dan tanah)–(Vol gelas ukur+Vol air pembilas) cm3


IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1     Hasil
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, maka diperoleh data dalam bentuk tabel sebagai berikut :
Tabel 4.  Hasil Pengamatan particle Density:
Tanah Vertisol
Particle Density (gr/ cm3)
Lapisan I
4 gr/cm3
Sumber : Data Primer diolah, 2011
4.2     Pembahasan
Pada tabel di atas, nilai particle density ialah 4 gr/cm3, dimana dikarenakan tanah ini cukup banyak mengandung bahan organik. Hal ini sesuai dengan pendapat Foth H.D. (1998) bahwa kerapatan partikel dipengaruhi oleh kandungan bahan organik dan tekstur tanah, tanah dengan kandungan bahan organik tinggi mempunyai partikel density (kerapatan jenis) yang lebih rendah.
Bahan organik dikatakan menjadi faktor penting karena pada lapisan vertisol mempunyai bahan organik yang tinggi tetapi bahan organik tersebut mengalami pencucian oleh air hujan maka secara otomatis bahan organik tersebut bergerak ke lapisan di bawahnya sehingga bahan organik menjadi berkurang dan Particle Density-nya pun menjadi rendah. Hal ini sesuai pendapat Hardjowigeno (2003), bahwa lapisan atas mengalami pencucian oleh air hujan dimana bahan organiknya menjadi rendah maka Particle Density-nya pun ikut menjadi rendah.

V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1     Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan Partikel Density pada tanah kering oven dapat disimpulkan :
1.             Tanah tersebut memiliki partikel density sebesar 4 gr/cm3, sehingga dapat disimpulkan bahwa tanah jenis ini memilliki banyak mineral kecil seperti mineral kwarsa, feldspart dan silikat koloida.
2.              Faktor- faktor yang mempengaruhi partikel density adalah bulk density secara tidak langsung berhubungan dengan kandungan bahan organik, tekstur dan struktur tanah.

5.2     Saran
Untuk kelancaran praktikum selanjutnya, sebaiknya bahan dan alat praktikum harus tersedia lengkap . Dengan adanya ketersedian bahan dan alat praktikum yang lengkap, akan mempermudah dan membantu para praktikan dalam melakukan percobaan.


LAMPIRAN
Perhitungan nilai Particle density
Nilai Particle density pada tanah lapisan I tanah Vertisol.
Dik:
Berat tanah kering oven = 40 gram
Volume dalam gelas ukur  = 50 cm3
Volume air dan tanah = 70 cm3
Volume air pembilas = 10 cm3
Volume tanah = 70 – (50+10) = 10 cm3
Dit : BD.....???

Peny :
                        Berat Tanah Kering Oven
BD =                                                                       gr/cm3
                   Volume Tanah
           
                        40 gr
                  =
                        10 cm3
                  = 4 gr/cm3



DAFTAR PUSTAKA
Foth, Henry D. 1994. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Erlangga. Makassar
Foth H.D. 1998. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Erlangga. Makassar.
Hakim N.M, dkk. 1986. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung. Lampung
Hanafiah, 2006. Partikel Density. Makassar
Hardjowigeno, S. 2003. Klasifikasi Tanah dan Pedogenesis. Akadeika Presindo.
Hardjowigeno, S. 1992. Ilmu Tanah. Akademika Pressindo. Makassar
makassar
Pairun, dkk. 1985. Dasar-dasar Ilmu Tanah. BKPTN Indonesia Bagian Timur. Makassar

Sabtu, 03 Maret 2012

Laporan Kadar Air Tanah

Laporan Kadar Air Tanah


I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kadar air tanah dinyatakan dalam persen volume yaitu persentase volume air terhadap volume tanah. Cara penetapan kadar air dapat dilakukan dengan sejumlah tanah basah dikering ovenkan dalam oven pada suhu 1000 C – 1100 C untuk waktu tertentu. Air yang hilang karena pengeringan merupakan sejumlah air yang terkandung dalam tanah tersebut. Air irigasi yang memasuki tanah mula-mula menggantikan udara yang terdapat dalam pori makro dan kemudian pori mikro. Jumlah air yang bergerak melalui tanah berkaitan dengan ukuran pori-pori pada tanah.
Air mempunyai fungsi yang penting dalam tanah, antara lain pada proses pelapukan mineral dan bahan organik tanah, yaitu reaksi yang mempersiapkan hara larut bagi pertumbuhan tanaman. Selain itu, air juga berfungsi sebagai media gerak hara ke akar-akar tanaman. Akan tetapi, jika air terlalu banyak tersedia, hara-hara dapat tercuci dari daerah-daerah perakaran atau bila evaporasi tinggi, garam-garam terlarut mungkin terangkat kelapisan tanah atas. Air yang berlebihan juga membatasi pergerakan udara dalam tanah, merintangi akar tanaman memperoleh O2 sehingga dapat mengakibatkan tanaman mati.                                                                                           
Dua fungsi yang saling berkaitan dalam penyediaan air bagi tanaman yaitu memperoleh air dalam tanah dan pengaliran air yang disimpan ke akar-akar tanaman. Jumlah air yang diperoleh tanah sebagian bergantung pada kemampuan tanah yang menyerap air cepat dan meneruskan air yang diterima dipermukaan tanah ke bawah. Akan tetapi jumlah ini juga dipengaruhi oleh faktor-faktor luar seperti jumlah curah hujan tahunan dan sebaran hujan sepanjang tahun.

1.2 Tujuan dan Kegunaan
Tujuan dari praktikum menentukan kadar air tanah ini adalah untuk mengetahui seberapa besar kadar air yang dapat ditampung oleh tanah Inceptisol beserta faktor-faktor yang mempengaruhinya.
            Kegunaan dari praktikum ini adalah sebagai pelengkap materi yang telah diberikan di ruang kuliah dan sebagai bahan informasi bagi para pembaca mengenai kandungan air tanah

II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kadar Air
Kadar air tanah dinyatakan dalam persen volume yaitu persentase volume air terhadap volume tanah. Cara ini mempunyai keuntungan karena dapat memberikan gambaran tentang ketersediaan air bagi tanaman pada volume tanah tertentu. Cara penetapan kadar air dapat dilakukan dengan sejumlah tanah basah dikering ovenkan dalam oven pada suhu 1000 C – 1100 C untuk waktu tertentu. Air yang hilang karena pengeringan merupakan sejumlah air yang terkandung dalam tanah tersebut. Air irigasi yang memasuki tanah mula-mula menggantikan udara yang terdapat dalam pori makro dan kemudian pori mikro. Jumlah air yang bergerak melalui tanah berkaitan dengan ukuran pori-pori pada tanah. Air tambahan berikutnya akan bergerak ke bawah melalui proses penggerakan air jenuh. Penggerakan air tidak hanya terjadi secara vertikal tetapi juga horizontal. Gaya gravitasi tidak berpengaruh terhadap penggerakan horizontal (Hakim, dkk, 1986).
            Menurut Hanafiah (2007) bahwa koefisien air tanah yang merupakan koefisien yang menunjukkan potensi ketersediaan air tanah untuk mensuplai kebutuhan tanaman, terdiri dari :
  1. Jenuh atau retensi maksimum, yaitu kondisi di mana seluruh ruang pori tanah terisi oleh air.
  2.  Kapasitas lapang adalah kondisi dimana tebal lapisan air dalam pori-pori tanah mulai menipis, sehingga tegangan antarair-udara meningkat hingga lebih besar dari gaya gravitasi.
  3. Koefisien layu (titik layu permanen) adalah kondisi air tanah yang ketersediaannya sudah lebih rendah ketimbang kebutuhan tanaman untuk aktivitas, dan mempertahankan turgornya.
  4. Koefisien Higroskopis adalah kondisi di mana air tanah terikat sangat kuat oleh gaya matrik tanah.
Kemampuan tanah menahan air dipengaruhi antara lain oleh tekstur tanah. Tanah-tanah bertekstur kasar mempunyai daya menahan air lebih kecil daripada tanah bertekstur halus. Oleh karena itu, tanaman yang ditanam pada tanah pasir umumnya lebih mudah kekeringan daripada tanah-tanah bertekstur lempung atau liat. Kondisi kelebihan air ataupun kekurangan air dapat mengganggu pertumbuhan tanaman. Ketersediaan air dalam tanah dipengaruhi: banyaknya curah hujan atau air irigasi, kemampuan tanah menahan air, besarnya evapotranspirasi (penguapan langsung melalui tanah dan melalui vegetasi), tingginya muka air tanah, kadar bahan organik tanah, senyawa kimiawi atau kandungan garam-garam, dan kedalaman solum tanah atau lapisan tanah (Madjid, 2010).
            Air tersedia biasanya dinyatakan sebagai air yang terikat antara kapasitas lapangan dan koefisien layu. Kadar air yang diperlukan  untuk tanaman juga bergantung pada pertumbuhan tanaman dan beberapa bagian profil tanah yang dapat digunakan oleh akar tanaman. Tetapi untuk kebanyakan mendekati titik layunya, absorpsi air oleh tanaman kurang begitu cepat, dapat mempertahankan pertumbuhan tanaman. Penyesuaian untuk menjaga kehilangan air di atas titik layunya telah ditunjukkan dengan baik (Buckman and Brady, 1982).
            Kadar air dalam tanah Alfisol dapat dinyatakan dalam persen volume yaitu persen volume air terhadap volume tanah. Cara ini mempunyai keuntungan karena dapat memberikan gambaran tentang ketersediaan air pada pertumbuhan pada volume tanah tertentu. Cara penetapan kadar air tanah dapat digolongkan dengan beberapa cara penetapan kadar air tanah dengan gravimetrik, tegangan atau hisapan, hambatan listrik dan pembauran neutron.  Daya pengikat butir-butir tanah Alfisol terhadap air adalah besar dan dapat menandingi kekuatan tanaman yang tingkat tinggi dengan baik begitupun pada tanah Inceptisol dan Vertisol, karena itu tidak semua air tanah dapat diamati dan ditanami oleh tumbuhan (Hardjowigeno, S., 1993).
III. METODOLOGI PERCOBAAN
3.1    Tempat dan Waktu
Praktikum kadar air tanah dilaksanakan di depan Green House dan Laboratorium Kimia Tanah Jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin, Makassar.  Praktikum ini dilaksanakan pada Rabu 9 November 2011, berlangsung dari pukul 13.00 WITA sampai dengan selesai.

3.2    Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah sampel tanah Alfisol dan air.      Alat-alat yang digunakan pada praktikum ini adalah cangkul, plastik, ember, cawan petridish, timbangan dan oven.

3.3    Prosedur Kerja
Adapun prosedur kerja pada praktikum ini adalah:
3.3.1 Volumetrik
-          Menimbang sample tanah utuh beserta ring sampelnya.
-          Meringkannya di dalam oven suhu 105o C selama 2 x 24 jam.
-          Mengeluarkan sample tanah utuh beserta ring sample, mendinginkannya terlebih dahulu, kemudian timbang sample tanah tanah beserta ring sampelnya yang telah kering oven.
-          Mengeluarkan tanah dari dalam ring sample, kemudian menimbang ring sample.
-          Menghitung dengan rumus :
Text Box: x  100 %Kandungan air tanah :    berat basah – berat kering
                                                                Volume tanah
3.3.2 Kapasitas Lapang
-      Menentukan tempat/lokasi yang datar dan dekat dengan sumber air.
-      Membersihkan tempat tersebut dari rerumputan.
-      Membuat bedengan dengan ukuran 1 x 1 meter.
-      Setelah bedengan dibuat cukup tinggi, padatkan bedengan tersebut untuk mencegah air merembes.
-      Menyiapkan air  +  200 liter dan menumpahkan pada bedengan secara bersamaan sampai tanah tersebut jenuh air.
-                  Menutup bedengan dengan menggunakan plastik. Memastikan bahwa seluruh  bedengan tertutup rapat, kemudian menyiamkan selama 1 x 24 jam.
-      Setelah didiamkan selama 1 x  24 jam, membuka plastik yang menutupi pot kemudian menyungkil tanahnya.
-      Menimbang tanah yang telah dicungkil (nilai tersebut sebagai berat basah) kemudian mengovenkan selama 1 x 24 jam.
-      Setelah di ovenkan, menimbang tanahnya  (nilai tersebut sebagai berat kering).
-      Menghitung kadar air kapasitas lapang dengan menggunakan rumus :
       Kadar air kapasitas lapang : berat tanah basah – berat tanah kering oven
                                                                               berat tanah kering oven
-      Melakukan analisis partikel untuk mengetahui persen liat pada tanah lalu menghitung kadar air pada titik layu permanen dengan menggunakan rumus :



Kadar air TLP =
 
        `                         (0,649 + 0,3538 x % liat)
                                                          100
      -     Menghitung air tersedia dengan menggunakan rumus :
            Air Tersedia = Kadar air kapasitas lapang – kadar air TLP

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Dari percobaan yang telah dilakukan, maka diperoleh hasil sebagai berikut.
Tabel 8. Penetapan Kadar Air Tanah Alfisol
Gravimetrik
Volumetrik
Kandungan Air Tanah
Kadar Air Kapasitas Lapang
Kadar Air TLP
Air Tersedia
Tanah Alfisol
42,7%
0,42%
-
-

4.2 Pembahasan
Dari hasil yang diperoleh, diketahui bahwa kandungan air tanah di dalam tanah Alfisol terbilang rendah. Keadaan tersebut dapat dipengaruhi oleh kandungan bahan organik tanah dan kedalaman solum di dalam ring sampel. Hal ini sesuai dengan pendapat Hanafiah (2007) yang menyatakan bahwa kadar air tanah dipengaruhi oleh kadar bahan organik tanah dan kedalaman solum, makin tinggi kadar bahan organik tanah akan makin tinggi kadar air, serta makin dalam kedalaman solum tanah maka kadar air juga semakin tinggi.
            Kadar air kapasitas lapang pada tanah Alfisol sebesar 0,42% karena dipengaruhi oleh besar kecilnya pemberian air pada permukaan tanah. Hal ini sesuai dengan pendapat Bukman and Brady (1982) yang menyatakan bahwa jika pemberian air pada permukaan tanah dihentikan, air akan turun ke bawah lebih cepat.
Sesudah satu hari kecepatan gerakan menurun akan terhenti sama sekali. Pada titik tersebut, pengujian tanah akan menunjukkan bahwa air telah keluar dari pori makro dan tempat ini ditempati udara.
Besarnya nilai air tersedia pada sampel tanah Alfisol adalah 1,3 yang bisa saja dipengaruhi oleh tekstur dari tanah tersebut. Hal ini sesuai dengan pendapat Saleh (2000) yang menyatakan bahwa tektur tanah sangat mempengaruhi banyaknya air yang tersedia. Tanah berpasir umumnya mempunyai air yang lebih kecil dibandingkan dengan tanah liat berdebu, namun dilain pihak, tanah berpasir mempunyai pori makro yang banyak, adhesifitas terhadap air lebih kecil, dan konduktivitas hidraulik yang lebih tinggi. Dengan demikian, meskipun kandungan air awal pada tanah liat berdebu lebih tinggi, namun faktor lainnya menjadi penghambat pergerakan air dibandingkan dengan tanah berpasir, sehingga pergerakan air pada tanah berpasir lebih cepat dibandingkan dengan tanah liat berdebu.
Kandungan air tanah Alfisol adalah sebesar 42,7% yang mungkin saja dipengaruhi oleh besarnya tegangan air dalam sampel tanah tersebut. Hal ini sesuai dengan pendapat Hardjowigeno S. (1992) yang menyatakan bahwa  
banyaknya kandungan air tanah berhubungan erat dengan besarnya tegangan air (moisture tension) dalam tanah tersebut. Kemampuan tanah dapat menahan air antara lain dipengaruhi oleh tekstur tanah.
 Tanah-tanah yang bertekstur kasar mempunyai daya menahan air yang lebih kecil dari pada tanah yang bertekstur halus. Pasir umumnya lebih mudah kering dari pada tanah-tanah bertekstur berlempung atau liat.
V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Dari praktikum yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa :
a)      Tanah Alfisol memiliki persentase kadar air yang cukup besar yaitu sebesar 0,42%.
b)      Faktor-faktor yang mempengaruhi banyaknya kadar air dalam tanah adalah banyaknya curah hujan atau air irigasi, kemampuan tanah menahan air, besarnya evapotranspirasi (penguapan langsung melalui tanah dan melalui vegetasi), tingginya muka air tanah, kadar bahan organik tanah, senyawa kimiawi atau kandungan garam-garam, dan kedalaman solum tanah atau lapisan tanah.

5.2 Saran
Untuk menentukan kandungan air tanah lebih mudah digunakan metode volumetric, asalkan kita memiliki sampel tanah utuh dari suatu jenis tanah.

DAFTAR PUSTAKA
Buckman, H. O., and Brady. 1982. Ilmu Tanah. Bharata Karya Aksara : Jakarta.
Hakim. N., dkk. 1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Penerbit Universitas Lampung : Lampung.

Hanafiah, K., A. 2007. Dasar-Dasar ILmu Tanah. Rajawali Pers : Jakarta.
Hardjowigeno.  S., 1993. Ilmu Tanah. Penerbit Akademika Pressindo : Jakarta.
Madjid. 2010. http://repository.usu.ac.id.pdf//Kadar-Air-Tanah diakses tanggal 1
                November 2010

Laporan Porositas Tanah


Laporan Porositas Tanah
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Porositas perlu diketahui karena merupakan merupakan gambaran aerasi dan drainase tanah. Banyaknya ukuran pori-pori tanah memegang peranan penting dalam mekanisme penyerapan air dalam tanah, sifat-sifat Porositas dapat berpengaruh bagi pertumbuhan dan perkembangan organism yang di budidayakan karena didalam tanah terdapat sejumlah ruang pori yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya. 
Kelancaran aerasi dan drainase tanah sangat tergantung pada pori tanah yang terdapat pada tanah tersebut. Tanah yang mempunyai tingkat Porositas yang akan mendatangkan aerasi dan drainase yan lebih lancar bila dibandingkan dengan tanah yang mempunyai porositas yang lebih rendah. Untuk menentukan tingkat porositas tersebut perlu diadakan analisa terhadap tanah tentang Bulk Density dan Particle Density. Berdasarkan kepada nilai Bulk Density dan Particle Density inilah dapat ditentukan tingkat Porositas satu tanah.
Berdasarkan uraian diatas , maka perlu diadakan percobaan tentang porositas tanah untuk mengetahui tingkat porositas dari tanah yang diambil, sebab porositas tanah mempengaruhi aerasi dan drainase tanah.
1.2 Tujuan dan Kegunaan
Tujuan dari pratikum Porositas tanah adalah untuk mengetahui nilai porositas pada tanah alfisol serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Kemudian untuk mengetahui banyaknya persentase Porositas.
Kegunaan dari pratikum Porositas tanah adalah sebagai bahan informasi untuk pengolahan tanah lebih lanjut berdasarkan nilai Porositasnya. 

II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Porositas
Porositas adalah total pori tanah yang ditempati oleh air atau udara serta bagian yang tidak terisi oleh bahan padat tanah. Pori-pori tanah dibedakan menjadi pori makro, pori meso, dan pori mikro terisi oleh air, sedangkan pada keadaan kering, pori makro dan sebagian pori meso terisi oleh udara (Hanafiah, 2005).
Persentase volume ruang pori tanah secara total disebut porositas. Ruang pori total adalah volume dari tanah yang ditempati pada tempat yang terisi air sehingga jenuh kemudian tanah dikeringkan melalui oven adalah volume ruang pori untuk tanah. Pada umumnya pori-pori besar (makro) berisi udara, kecuali bila tanah seluruhnya tergenang air, dan pori-pori kecil (mikro) berisi air, kecuali bila tanah sangat kering. Porositas tanah adalah persentase volume tanah yang tidak ditempati butiran padat (Pairunan, dkk, 1997).
Ruangan pori total pada tanah berpasir mungkin rendah, tetapi sebagian besar tersusun dari pori-pori besar yang sangat efisien untuk pergerakan air dan udara. Persentase volume yang diisi oleh pori-pori kecil pada tanah berpasir adalah rendah, yang menjadi penyebab rendahnya kapasitas penahan air. Sebaliknya tanah permukaan yang bertekstur halus mempunyai ruangan pori total lebih banyak, dan relative sebagian besar tersusun dari pori-pori kecil. Hasilnya adalah tanah dengan kapasitas menahan air yang lebih tinggi (Foth, 1994).
Pori-pori tanah adalah bagian yang tidak terisi bahan padat (terisi oleh udara dan air). Pori-pori tanah dapat dibedakan menjadi pori-pori kasar (macro pore) dan pori-pori halus (micro pore). Pori-pori kasar berisi udara dan air gravitasi (air yang mudah hilang karena gaya gravitasi), sedang pori-pori halus berisi air kapiler atau udara. Tanah-tanah pasir mempunyai pori-pori kasar lebih banyak daripada tanah liat.
Tanah dengan banyak pori-pori kasar sulit menahan air sehingga tanaman mudah kekeringan. Tanah-tanah liat mempunyai pori-pori total (jumlah pori-pori makromikro), lebih tinggi daripada tanah pasir (Hardjowigeno, 2003).
Air tersimpan atau tertekan dalam pori karena adanya gaya kapiler. Pori-pori besar yang tidak menahan air dengan gaya kapiler disebut dengan gaya nonkapiler atau pori aerase atau gaya-gaya kapiler yang dinamakan pori kapiler atau pori mikro (Hakim, dkk, 1986).
Porositas tanah dipengaruhi oleh beberapa factor, yang salah satu diantaranya adalah keadaan tekstur tanah. Tanah yang bertekstur granular atau remah memiliki tingkat porositas yang lebih tinggi daripada tanah yang bertekstur massive (pejal) dengan tingkat porositas tanah yang kecil. Kedua tipe tekstur tanah tersebut memiliki perbedaan dalam hal ruang/pori yang didalamnya terdapat air dan udara. Tanah yang bertekstur granular memiliki ruang/pori tanah yang besar yang berisi udara dan kadar air yang lebih sehingga menunjang tanaman dalam perkembangannya, sedangkan tanah bertekstur massive dengan tingkat pori yang lebih kecil serta kandungan air yang sedikit dan sangat mudah untuk hilang sehingga tanaman mudah kering (Pairunan,1997).
Porositas suatu lapisan tanah juga dipengaruhi oleh ada tidaknya perkembangan struktur granular pada tiap lapisan horizon tanah yang akan memberikan hasil porositas total yang tinggi dan dapat meningkatkan jumlah pori makro dan pori mikro suatu lapisan tanah. Sehingga, pada lapisan tanah dengan struktur remah atau kersai sangat berpengaruh dalam penentuan porositas karena dengan struktur tanah tersebut umumnya mepunyai porositas yang besar (Hardjowigeno, 1992).
Nilai Porositas berbanding lurus dengan besar kecilnya stuktur tanah. Tanah denga struktur kersai membuat tingkat porositas semakin tinggi, sedangkan bila struktur tanah rendah maka nilai Porositasnya juga akan menurun (Syarief, 1988). 
Penentuan Porositas tertuju pada partikel-partikel yang ada dalam lapisan tanah. Jadi porositas tiap jenis tanah adalah konstan dan tidak bervariasi dengan jumlah ruang atau antara partikel-partikel. Untuk kebanyakan tanah mineral rata-rata kerapatan zahranya adalah 2.6 gr/cm3. Perbedaan kerapatan dengan zahra diantara jenis-jenis tanah tidak begitu besar, kecuali terdapat variasi didalam kandungan bahan organic dan komposisi mineral tanah (Hardjowigeno, 2003).
Salah satu pentingnya dilakukan pengolahan tanah adalah untuk memperbesar porositas tanah. Selain pengolahan tanah, adapun cara lain yang dilakukan untuk memperbesar Porositas tanah yaitu dengan penambahan bahan organik dan pengolahan tanah secara minimum. Karena tanah pertanian dengan pengolahan yang
intensif cenderung mempunyai ruang pori rendah, apabila terjadi penanaman terus- menerus tanpa adanya pengolahan tanah maka akan mengurangi pori-pori mikro dan kandungan bahan organik dalam tanah (Hakim, 1986).
Faktor-faktor yang mempengaruhi porositas adalah susunan butiran tanah. Susunan butiran tanah menentukan jumlah dan sifat pori. Liat memiliki porositas yang tinggi daripada pasir. Ukuran pori-pori pada liat kecil dan dapat menahan air tetapi permaebilitas lambat. Sebaliknya pasir memiliki sedikit pori-pori, tetapi pori-porinya berukuran besar yang kurang mampu menahan air dan drainase cepat (Pairunan, 1985).

III. METODOLOGI PERCOBAAN
3.1 Waktu dan Tempat
Pratikum Porositas tanah dilaksanakan pada hari senin, 1 November 2010, di Laboratorium Kimia Tanah, Jurusan Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Hasanuddin, Makassar. Pada pukul 11.00 Wita sampai selesai.
3.2 Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan pada pratikum ini adalah ring sampel, desikator, gelas ukur 100 ml, pipet tetes, mistar, mortal, timbangan dan oven.
Bahan-bahan yang digunakan pada pratikum ini adalah sampel tanah Ultisol dan air.
3.3 Prosedur kerja
·         Hitunglah nilai density dan Particle Density contoh tanah.
·         Hitunglah nilai Porositas dengan persamaan sebagai berikut :

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Berdasarkan hasil percobaan Porositas, maka diperoleh hasil sebagai berikut :
Tabel 1. Hasil pengamatan Porositas (%) pada sampel tanah Ultisol.
Tanah
Porositas (%)
Sampel tanah utuh

Sumber : Data Primer Setelah Pratikum Porositas Tanah, 2010
4.2 Pembahasan
Hasil pengamatan yang diperoleh menunjukkan nilai porositas pada sampel tanah Ultisol sebesar 86,3 % yang berarti bahwa bahan organiknya tinggi. Nilai Porositasnya tinggi disebabkan kandungan bahan organiknya tinggi. Ini berarti masih rendahnya nilai Bulk Density dan Particle Density suatu tanah, maka semakin tinggi nilai porositasnya (Pairunan, 1985).
 Faktor yang mempengaruhi ruang pori adalah tekstur tanah. Factor yang mempengaruhi ruang pori adalah perbedaan besar jumlah ruang pori berbagai tanah tergantung pada keadaan. Faktor-faktor yang mempengaruhi porositas adalah susunan butiran tanah. Susunan butiran tanah menentukan jumlah dan sifat pori. Liat memiliki porositas yang tinggi daripada pasir. Ukuran pori-pori pada liat kecil dan dapat menahan air tetapi permaebilitas lambat. Sebaliknya pasir memiliki sedikit pori-pori, tetapi pori-porinya berukuran besar yang kurang mampu menahan air dan drainase cepat (Foth, 1995).
Salah satu pentingnya kita melakukan pengolahan tanah adalah untuk memperbesar Porositas tanah. Selain pengolahan tanah, adapun cara lain yang dilakukan untuk memperbesar Porositas tanah yaitu dengan penambahan bahan organik dan pengolahan tanah secara minimum. Karena tanah pertanian dengan pengolahan yang intensif cenderung mempunyai ruang pori rendah, apabila terjadi penanaman terus-menerus tanpa adanya pengolahan tanah maka akan mengurangi pori-pori mikro dan kandungan bahan organik dalam tanah. Jadi sebelum kita mengolah tanah sebaiknya diketahui terlebih dahulu nilai Porositas tanah yang akan kita olah. Tanah yang bertekstur halus mempunyai Porositas yang besar, sedangkan tanah yang bertekstur  kecil mengandung Porositas yang kecil. Disebabkan tanah yang bertekstur halus memiliki daya menahan air dan bahan organik yang besar, sehingga nilai Porositasnya juga besar, sedangkan tanah yang bertekstur kasar daya menahan air dan bahan organiknya kecil dan ini mengakibatkan nilai Porositasnya juga kecil.
V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan, maka dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut :
·         Bahwa sampel tanah Ultisol memiliki nilai Porositas sebesar 86,3 %.
·         Nilai Porositas akan tinggi disebabkan oleh bahan organi yang tinggi, yang berarti apabila nilai Bulk Density dan Particle Density suatu tanah masih rendah, maka semakin tinggi nilai Porositasnya.

5.2 Saran
Sebaiknya tanah yang memiliki nilai Particle Density tinggi ditambahkan dengan bahan organik agar dapat digunakan dalam usaha tani, misalnya bercocok tanam.




DAFTAR PUSTAKA
Foth, D. Hendry, 1995. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Gajah Mada Universitas Press. Yokyakarta

Hanafiah, K. A, 2005. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Divisi Perguruan Tinggi. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Syarief, Saifuddin., 1988. Fisika Kimia Tanah Pertanian. C.V. Pustaka Buana : Bandung.

Hardjowigeno, S, 2003. Ilmu Tanah. Mediyatama Sarana Perkasa, Jakarta.
Pairunan, Anna, K., Nanere, J, L., Arifin., Solo, S, R. Samosir, Romoaldus Tangkaisari, J. R Lalapia Mace, Bachrul Ibrahim., Hariadji Asnadi., 1985.



LAMPIRAN
Perhitungan Porositas pada tanah Ultisol.
Dik :
·         Bulk Density (BD)            = 0,36 gr/cm3
·         Particle Density (PD)        = 2,63 gr/cm3
Penye :
Porositas = 1 – (  ) x 100 %
               =               
               = x 100%
            =